Sabtu, 29 Agustus 2020

Akuaponik

Sore 12 Juni itu Ridwan mengirim pesan. "Mbak, saya lagi nyoba akuaponik buat projek akhir bareng teman saya, Fahmi."

Wah, serunya! Akhir-akhir ini banyak yang mulai mencoba akuaponik. Akuaponik ini sudah lama dipopulerkan, sudah banyak juga ahlinya, namun sekarang semakin banyak lagi yang mencoba.

Singkat cerita, aku sangat tertarik. Akhirnya aku minta padanya agar bisa ikut projek. Dia mulai menjelaskan ide dan langkah membuat akuaponik. 

Akuaponik merupakan sistem di mana kita dapat memelihara ikan, menanam tumbuhan, dan melibatkan mikroorganisme pengurai. Ikan yang dipelihara mendapatkan makanan dari pakan buatan dan pakan alami, seperti pemeliharaan pada umumnya. Namun, pada sistem akuaponik, terjadi sirkulasi air dan amonia yang terkandung di dalamnya sehingga air menjadi lebih jernih tanpa terus-menerus dikuras.

Makanan yang dihasilkan mungkin belum terjamin rasanya, ada yang bilang rasanya enak dan ada juga yang bilang rasanya 'berbeda'. 

Kami (dan lebih utamanya Ridwan) mempersiapkan alat dan bahan sistem, yang kemudian dipasang di teras rumah Ridwan. Ini dia yang dipersiapkan,

- 4 buah ember

  1. drum 120 L untuk kolam ikan, 
  2. ember 80 L filter, 
  3. ember 50 L filter,
  4. ember 30 L filter, 

- pipa dan sambungan

  1. Pipa PVC ukuran 3 inch (1 buah)
  2. Tutup pipa PVC ukuran 3 inch
  3. Pipa PVC ukuran 1/2 inch (2 buah)
  4. Sambungan T pipa
  5. Sambungan L pipa
  6. Keni T
- mata bor bulat kayu 1 set
- filter
  1. Kapas
  2. Bioball
  3. Batu zeolit
  4. Karbon bioaktif
  5. Paranet
  6. Jaring kantong filter (4 buah)
- alat dan bahan akuaponik
  1. Netpot
  2. Sumbu flanel
  3. Rockwool
  4. Alat ukur pH dan suhu
  5. Timer
  6. Pompa
  7. Aerator
  8. Selang kecil
  9. Bibit tanaman
  10. Bibit Ikan
  11. Air hijau racikan (green water system)
Kebetulan, seorang penulis baru saja menerbitkan buku antologi tentang Urban Farming. Diantara penulisnya termasuk orang-orang yang menggeluti akuaponik dan hidroponik.



Oiya dalam buku ini juga ada cerita tentang Go Green, termasuk kisah awal mula @cerita.iklim. Buku ini ditulis dalam rangka menyambut hari Bumi pada 6 Juni 2020 kemarin. Nah, karena aku udah dapet bukunya, insyaAllah posting-an selanjutnya akan kureview ya!

Jumat, 04 Januari 2019

Puisi Tiga: Bukan Lagi Kamu

Puisi Tiga: Bukan Lagi Kamu

Bukan lagi kamu
yang membuatku utuh
karena mencintai adalah tindakan penuh kesadaran
alih - alih rasa ketergantungan

Bukan lagi kamu
satu-satunya yang mengisi setiap hariku
dan aku sadar hal sebaik cinta hanya jadi seburuk luka
kalau jadi dalih untuk memikirkan diri sendiri

Bukan lagi kamu
satu- satunya yang terpisahkan jarak dan waktu
mimpi punya tempat yang lebih jauh
sedang aku tak lagi punya banyak waktu berlabuh

Puisi Dua: Efek dari Secangkir Kopi

Puisi Dua: Efek dari Secangkir Kopi

Siang ini aku pergi ke kafe
mencicipi kopi hitam
yang membuatku berdebar
dan sekarang tak bisa tidur

Kopi itu mengingatkanku pada ayah yang semangatnya diawali kopi
sayang sekali tak kubelikan
ditemani roti yang mengingatkanku pada ibu saat membuat roti bersama
sayang juga tak kubelikan

Membuatku berpikir
besar nanti apakah aku
akan tetap terus mengingatnya
dan bisa seperti mereka
yang selalu belikan sesuatu untukku

Efek dari secangkir kopi
dan umur 20an

Rabu, 15 Agustus 2018

Puisi Satu


Puisi Satu: Ibu, Kok Tempe Enak?

Baru sekali ini aku suka
tanpa melihat siapa yang memberikan

Baru sekali ini aku suka
sudah lama tapi tak bosan- bosan

Tempe moodboosterku saat pulang
Tempe goreng, tempe tepung, tempe orek kering dan basah

Puisi ini didedikasikan untuk tempe
yang enak
dan apa adanya

Tempe enak ya bu

Durian juga enak hehe